Melihat Lynx memilih batu roh secara sembarangan, orang-orang yang tidak mengetahui alasannya pun tertawa.

"Lihat dia! Tidak memeriksa sama sekali! Apa dia benar-benar berharap mendapatkan sesuatu yang berharga dari kios-kios itu?" seru salah seorang penonton dengan nada mengejek.

"Dia pasti tidak tahu! Semua kios di pasar ini milik keluarga Huo, dan yang dia pilih adalah kios dengan batu-batu termurah!" ujar yang lain sambil terkekeh. "Batu-batu di sana sengaja dijual murah karena hampir mustahil ada kristal roh di dalamnya. Apa dia pikir bisa menemukan harta karun hanya dengan keberuntungan?"

"Bandingkan dengan Tuan Muda Huo Tao. Lihat bagaimana dia memeriksa setiap batu dengan cermat. Itu baru cara seorang ahli! Aku yakin dia yang akan menang," tambah seorang penduduk dengan penuh keyakinan.

Di tengah riuhnya suara kerumunan, Ling Mei berdiri di samping Li Wei. Tatapan matanya dipenuhi kekecewaan yang mendalam.

"Aku terlalu tinggi menilainya," batinnya dengan frustrasi. "Dia hanya Forging Qi tingkat satu, jelas tak mungkin memiliki keterampilan dalam memilih batu roh. Tapi yang paling menyebalkan adalah sikapnya yang terlalu masa bodoh! Seharusnya Xiao Ling lebih serius dalam perlombaan ini. Dia membawa nama Li Wei, tapi bertindak seakan ini hanya lelucon. Mungkin menebak batu Yun Qing dan milik Li Wei hanyalah kebetulan belaka."

Ling Mei menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Li Wei. Suaranya dingin dan tajam.

"Li Wei, dari mana kau mengenal pemuda itu? Dia terlalu sembrono. Jika terus bersikap seperti ini, nama baikmu akan hancur. Apa dia tidak menganggap serius pertandingan ini dan tidak menyadari betapa pentingnya perlombaan ini karena membawa namamu?"

Li Wei menatap Ling Mei dengan ekspresi khawatir. "Dia pasti punya alasannya, Kak Ling Mei. Kita harus percaya padanya," ujarnya, berusaha menenangkan.

Namun, bukannya mereda, kekecewaan Ling Mei justru semakin bertambah.

"Percaya?" Suaranya terdengar sinis. "Dia bahkan tidak menunjukkan rasa hormat terhadap perlombaan ini. Jika dia kalah, semua orang akan menganggapnya tak lebih dari seorang pecundang yang tak pantas berteman denganmu!"

Li Wei tercengang mendengar kata-kata itu. Ia mengenal Kak Ling Mei sebagai seseorang yang dingin dan rasional, dia tidak pernah mengurusi urusan orang lain, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

"Kenapa Kak Ling Mei tampak sangat membenci Xiao Ling?" batinnya penuh kebingungan. "Apa ada sesuatu di antara mereka? Aku belum pernah melihat Kak Ling Mei bersikap seperti ini kepada orang lain sebelumnya..."

Sementara itu, Lynx yang mendengar ejekan orang-orang tetap tenang. Ia tahu mereka akan segera diam setelah melihat hasil dari batu roh yang dipilihnya.

Di kejauhan, Huo Tao mengamati semua ini dengan tatapan penuh kepuasan. Ia menahan tawa, seolah menikmati bagaimana Lynx mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.

"Sepertinya bocah itu benar-benar bodoh," gumamnya. "Dia bahkan tidak memeriksa batu rohnya sebelum memilih. Semua orang tahu kios itu hanya menjual batu-batu sisa yang tak berharga, tapi dia tetap mengambilnya begitu saja! Tak kusangka semudah ini membalasnya. Tapi tidak, aku belum puas. Aku akan lebih mempermalukannya setelah batu roh mulai dibelah."

Tatapan Huo Tao semakin tajam. Ia terus memantau Lynx dari kejauhan, bersiap mengikuti setiap gerakannya dan memastikan rencananya berjalan sesuai keinginan.

Ketegangan di antara para peserta perlombaan semakin meningkat. Semua mata tertuju pada mereka, menunggu dengan penuh antusias untuk melihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Satu jam berlalu dengan cepat. Pasar batu roh yang ramai kini dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menyaksikan hasil dari pertarungan ini.

"Lihat, bentuk batu-batu yang mereka bawa sangat terlihat bedanya. Aku yakin, tuan muda Huo pasti akan menang dan mengalahkan pemuda itu." kata salah seorang anak buah Huo Tao yang ikut berbaur dengan penonton untuk memanasi penonton agar semakin mendukung Huo Tao dan mempermalukan Lynx.

"Pemuda bodoh, kamu mempermalukan dirimu sendiri. Aku akan membuat semua penduduk melihatmu sebagai pecundang." batin Sun Fang. Karena ulah pemuda tersebut, dia mendapatkan teguran keras dari nyonya Chen dan memotong upahnya.

Di hadapan semua orang, Lynx dan Huo Tao telah meletakkan batu-batu pilihan mereka di atas meja seorang ahli pemotong batu roh. Sang ahli, pria tua berpengalaman dengan tangan kokoh dan mata tajam, memegang pisau batu surgawi yang berkilauan di bawah sinar matahari.

Huo Tao menyilangkan tangan di dada, menatap Lynx dengan senyum mengejek. “Aku ini orang yang baik hati. Karena kau terlihat sangat percaya diri tadi, aku akan membiarkan batu-batuku dibelah lebih dulu. Biar kau bisa belajar bagaimana cara memilih batu roh yang benar.”

Beberapa orang di kerumunan langsung tertawa mendengar kata-katanya.

“Haha! Tuan muda Huo Tao memang luar biasa! Dia tahu dirinya pasti menang!”

“Lihat saja nanti, perbedaannya pasti jauh sekali!”

Li Wei menggigit bibirnya. “Aku punya firasat buruk…” bisiknya pelan.

Jelita, yang berdiri di sampingnya, mengepalkan tangannya erat-erat. “Xiao Ling pasti tahu apa yang dia lakukan…”

Ling Mei berdiri dengan ekspresi datar, tetapi di matanya tersirat ketidakpuasan. "Aku ingin melihat sejauh apa dia bisa bertahan setelah ini," batinnya sinis.

Di sampingnya, seorang kakak seperguruan Li Wei melirik Lynx sekilas dan berkata lembut, “Rasanya hasilnya sudah bisa ditebak.”

Li Wei menoleh, tetapi tidak membalas. Ia hanya menatap Lynx dengan khawatir.

Sang ahli pemotong batu akhirnya menghela napas. Ia mengangkat pisau batu surgawi dan mulai membelah batu pertama milik Huo Tao.

Kriiit!

Begitu batu itu terbelah, cahaya pucat kebiruan bersinar dari dalamnya.

“Kristal roh!” seru seseorang.

Kerumunan langsung bersorak.

“Tuan muda Huo Tao mendapatkan kristal roh!”

Huo Tao tersenyum puas. “Tentu saja. Meski tidak sebagus milik Yun Qing, tapi lihat ukurannya! Dan ini baru awal.”

Sang ahli melanjutkan ke batu kedua.

Kriiit!

Sekali lagi, cahaya bersinar—tetapi kali ini lebih terang. Kristal roh berwarna hijau kebiruan tampak di dalamnya, ukurannya sedikit lebih besar dari yang pertama.

“Lihat itu! Kristalnya lebih besar dari yang pertama!”

“Tuan muda Huo Tao benar-benar hebat dalam memilih batu roh!”

"Hah! Lihat itu!Sudah dua dari batuku yang menghasilkan kristal besar! Aku penasaran, bisakah kau melakukan hal yang sama, Xiao Ling?" kata Huo Tao sambil tertawa bangga.

Batu ketiga—

Kriiit!

Cahaya bersinar lagi, dan kali ini kristal roh di dalamnya berukuran lebih besar dari dua sebelumnya.

“Tiga dari tiga! Ini sudah membuktikan siapa pemenangnya!”

"Luar biasa, aku belum pernah melihat seseorang yang bisa memilih batu roh dengan sangat tepat seperti ini." kata salah satu penonton lainnya dengan rasa kagum.

Sorakan semakin keras. Para pengikut Huo Tao menatapnya dengan kagum, sementara senyum di wajah pemuda itu semakin lebar.

Batu keempat—

Kriiit!

Kilauan cahaya yang lebih kuat terpancar keluar, menandakan kristal roh yang ukurannya hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya.

“Luar biasa! Ukurannya semakin besar!”

“Tuan muda Huo Tao pasti akan mendapat keuntungan besar dari ini!”

Huo Tao mendengus penuh kemenangan dan melirik Lynx dengan tatapan mengejek. “Kau lihat? Inilah perbedaan antara orang yang tahu cara memilih batu dan orang yang hanya mengandalkan keberuntungan.”

Lynx tidak bereaksi, hanya menatap batu yang sudah terbelah dengan ekspresi netral.

Sang ahli akhirnya mengambil batu kelima—batu terakhir milik Huo Tao.

Kriiiiit!

Begitu batu itu terbuka, semua orang terdiam sejenak. Kristal roh di dalamnya bersinar dengan kilauan yang lebih terang, dan ukurannya jauh lebih besar dibandingkan keempat sebelumnya.

“Ini… ini sangat besar!”

“Kristal roh biasa, tapi ukurannya hampir sebesar kepalan tangan orang dewasa!”

“Tuan muda Huo Tao menang mutlak!”

Huo Tao terkekeh puas. Ia melipat tangannya di dada dan menatap Lynx dengan sinis. “Bagaimana? Masih mau lanjut?”

Sorakan dan ejekan dari kerumunan kembali bergema.

“Untuk apa diteruskan? Jelas sekali Tuan Muda Huo Tao yang menang!”

“Lynx pasti tidak punya muka lagi untuk melanjutkan ini!”

